Make your own free website on Tripod.com

MAHASISWA SAINTEK BINGUNG

 

Tepatnya hari selasa pagi, aku tersentak mendengar suara “yang penting kalian rajin masuk kuliah pasti masa depan kalian akan cerah, jangan ikut-ikutan teman-teman kalian yang aktif di organisasi, meraka pasti kerasan di kampus ini karena malas kuliah. hampir tidak ada yang beres studi di kampus ini, jadinya ya… cuma bikin masalah”. Kata-kata itu keluar dari mulut pejabat fakultas yang pada saat itu memberi sambutan mahasiswa peserta akta 4. Di antara sorak sorai gemuruh tawa mahasiswa, aku sama sekali tak percaya, respon nalarku memaksaku diam terpaku, merenung, dan bergumam dalam hati “sementara ini aku terlalu rajin kuliah sampai-sampai kutinggalkan temen-temenku diorganisasi, benarkah kampus ini mampu menjamin masa depanku, padahal aku sangat merasakan kejenuhan yang sangat selama ini. Apakah benar teman-teman sepertiku seperti joni yang aktif dalam kegiatan-kegiatan organisasi gagal menggapai masa depan cerah, tapi mengapa… dibanyak sisi dia lebih dariku, kemampuan menejerialnya yang handal disertai tajamnya pisau analisisnya membuatnya lebih percaya diri dan seolah lebih siap mengahadapi badai hidup ini, rasanya bekal akademis saja belum cukup untuk hadir dalam masyarakat. Atau jangan-jangan persepsiku saat ini salah dalam menilai orang-orang seperti joni, atau mungkin orang-orang seperti saya yang terlalu takut untuk meninggalkan kuliah karena kuliah adalah tanggung jawab terhadap orang tua, sedangkan organisasi sebaliknya, tapi kalau menurut joni dulu “ organisasi adalah pusat pengembangan potensi, disana terdapat banyak tantangan yang mampu melatih keberanian dan kesabaran, di sana banyak fenomena yang menarik untuk dianalisa, keterbukaan, kebersamaan, dan semangat selalu merangsang naluri saya termasuk obsesi saya untuk membahagiakan keluarga di rumah, karena disana tidak cuma ilmu, tapi juga pengalaman yang sama sekali tak ada di kampus”, dari pernyataannya seolah dunia ini terbalik, organisasi yang selama ini di pandang sebelah mata, dijauhi, diklaim sebagai momok universitas, atau dalam bahasa kasarnya sampah bagi mahasiswa dan dosen, ternyata lebih dari yang kukira, tokoh-tokoh besar nasionaldan pejabat-pejabat lainya merupakan mantan aktifis organisasi, terlihat pengalamannya penuh dalam kurikulum vitaenya. Dulunya mereka tidak cuma kuliah, mereka seperti halnya joni yang sekarang dikucilkan teman-teman, digunjingi dosen-dosen dan mahasiswa, sering disalahkan dalam banyak momen. Apakah karena lebih banyaknya mahasiswa yang meninggalkan organisasi demi kulianya daripada mahasiswa yang meninggalkan kuliahnya demi organisasi, sehingga mebuat yang banyak meghakimi yangs edikit, tak ada teori sosial yang menyatakan kebenaran adalah milik mayoritas. Dari sini aku bisa merasakan bahwa kuliah ternyata memberikan penekana naluriku, melakukan pembatasan-pembatasan pada pengembangan potensiku, di sana dijejali tugas-tugas monoton dan ceramah-ceramah dosen yang tidak profesional, praktikum-praktikum yang tak berkualitas, padatnya jam kuliah yang membosankan membuatku ingin mencari sesuatu yang lain yang beda, dan yang lebih. Aku ingin berpetualang di kampus , berusaha mencari pengalaman diluar kuliah, dan berharap menemukan tantangan-tantangan yang bisa mendewasakan, tapi terlanjur aku sudah semster 6 yang sebentar lagi pkl dan mempersiapkan skripsi, tugas akhir dan wisuda. Sesuai harapan orang tuaku, aku lulus dengan prestasi yang memuaskan, pulang dengan senyum dan pekerjaan tetap sebagai seorang yang handal dalam memainkan hidup. Tapi saat ini aku bisa apa…? aku tahu apa…? Aku punya pengalaman apa..? sampai-sampai aku berharap semua hayalanku berubah menajdi nyata, meski pertanyaan-pertanyaan tersebut belum mampu terjawab, tapi setidaknya refleksiku kali ini menyadarkanku untuk lebih objektif dalam menghargai sosok aktifis, menilai organisasi, berusaha mencari pengalaman disana, mengasah keberanian, berpetualang dengan banyak tantangan dan aku yakin ketidak adilan persepsi kebanyakan mahasiswa dan dosen dalam mendiskreditkan aktifis akan menjadikan awal semangatku untuk membangun masa depan. Dengan berorganisasi aku dapat merasakan sebagai mahasiswa yang sebenarnya. (op)

kembali ke halaman muka