Make your own free website on Tripod.com

AKU

Dalam hidup ini ketika kucoba renungkan apa dan bagaimana semua ini bisa terjadi. Banyak hal yang sebenarnya membuatku bingung dan ragu, kadang aku butuh dan dibutuhkan, mencari dan dicari, menolong dan ditolong, yang kesemuanya itu amatlah tidak berharga dibandingkan dengan kondisiku sekarang ini. Setelah masa depanku hancur ditambah beban berat dipundakku, hutang-hutang yang melilitku, dan banyak lagi keresahan yang kurasakan semuanya itu hanyalah sekedar untuk mengutuk diriku sendiri saja dan bukan untuk menghibur apalagi menolong dan memberikan harapan bagiku. Sangatlah naif ketika sekarang diriku mengharap ketenangan sementara orang sekeliling menatapku dengan tatapan tuntutan, bicara denganku dengan suara cemoohan, hingga aku berani taruhan suatu saat dunia akan terbalik sehingga keberuntungan ada di depan mataku. Akupun sadar keluargaku akan sangat kecewa ketika melihat kenyataan yang menimpaku, anak yang dibanggakan, adik yang berpotensi, dan saudara yang paling diharapkan, ternyata tak lebih dari sekedar benalu yang menjadi beban orang yang selama ini memperhatikanku. Tak patutlah kiranya kutulis untaian kata yang sangat tidak enak dibaca apalagi direnungkan yang hanya mengindikasikan sebuah penyesalan yang mendalam tentang suatu abstraksi dilema kehidupanku yang an sich. Tak ada lagi suatu harapan lain kecuali “kebebasan” yang selama ini tak pernah kumiliki, yaa…. Kebebasan yang aku sudah tidak memikirkan orang lain, tidak mau tahu kepentingan, dan tidak kuanggap diriku hanyalah jadi korban peradaban zaman ataupun seonggok paham idealisme serta kebebasan yang aku sendiri kuasa tuk pertahankan hidupku atas kesepakatan naluri dan nuraniku sendiri. Tak ada ikatan apapun dengan dunia selain aku, tak ada seorangpun. Hanya apa yang aku butuhkan dan apa yang aku inginkan yang akan kujalani dan kuperjuangkan, kubiarkan suara yang mencoba membuatku tertarik kesana, kubiarkan alam mempertemukanku sendiri dengan Tuhan dan bukan orang lain. Kata-kata ini sebenarnya tak patut dimaterialkan oleh orang yang mengatasnamakan pejuang, tapi hanya teruntuk orang yang berani dengan lantang membahasakan kejujuran. Seperti halnya kaum yang diklaim egois, aku akan berani membuktikan bahwa kaum egoispun sebenarnya punya pertimbangan naluri yang sebenarnya juga perlu diklasifikasikan dan didefinisikan menjadi egois murni amoral yang selalu membawa-bawa kepentingan, dan egois rasionalis yang tidak merugikan orang lain, meski kedua-duanya tidak baik untuk dikembangkan. Kadangkala kedengkian yang mewarnai hidup ini diubah dalam bahasa cinta, kebohongan dibalut dengan kejujuran, nafsu yang garang dilapisi moral, dan kekejian sudah layak dikatakan akhlak. Akupun tidak lagi merasa hidup ini seindah masa kanak-kanak dimana ibu guru dengan kasih sayang selalu memperhatikan perkembangan dan pendidikanku, tapi sekarang orang yang kuanggap sebagai guru mendidikku hanya untuk lembaran-lembaran emas, kuliah dijadikan alat transaksi, belajar mengajar bukan lagi untuk pintar tapi hanya demi kepingan-kepingan harta, tak sanggup kiranya kubayangkan kedua orangtuaku banting tulang mandi keringat hanya untuk mencukupi kebutuhanku, tiap malam bersimbah air mata demi mendoakanku. Persetan dengan orang yang selama ini membual didepanku, meski dia dianggap pahlawan tanpa tanda jasa ataupun penuh pengorbanan. Ratapan dan tangisanku seolah tiada artinya lagi, hatiku kering kerontang merasakan panasnya sengatan emosi kealpaan. Apapun telah kuanggap fana, termasuk identitasku tanpa terkecuali. Kebenaran menjadi tidak lagi menarik bahkan malah semakin menakutiku, ditambah belenggu anti kemapanan yang dimulai pasca wacana tentang kritisisme dan teori kebenaran, juga terkait dengan konsepsi logis august comte yang menyatakan “Sebagai anak kita menjadi seorang teolog, sebagai remaja kita menjadi ahli metafisika dan sebagai mansusia dewasa kita menjadi ahli ilmu alam”. Sedikit banyak diriku telah terpengaruh diskursus epistemologi kiri, tapi memang sejak awal obsesiku selalu ingin mencari sesuatu yang beda meski lingkungan tidak pernah mendukungku. Bukan hal yang salah ketika dihadapkan pada persepsi, pada kenyataan yang tidak semua orang bisa melihatnya, ilusi adalah kenyataan, intuisi adalah sumber inspirasi dan awal mula sebuah ide, akan tetapi apakah “harus” ketika hari ini kucoba terlepas dari apapun yang aku sendiri takut untuk berpikir kesana?, rasanya bukan menjadi ketakutan kalupun itu hanya sekedar bahasa atau logika. Tapi bukan hal itu yang sebenarnya membawaku pada “kegilaan”, tapi malah aku menganggap bahwa sesuatu selain aku hanya ada jika ada dibenakku. Bukan hanya manusia, hewan, perasaan, alam, atau bahkan Tuhan sering menjadi klaim bahwa aku benar-benar ada dengan segenap eksistensiku, tapi aku ragu bahwa semuanya ada bahkan termasuk logika berpikirku, dalam ketiadaan ini hanya ada bayang-bayang yang ada tanpa cahaya dan kegelapan, substansi dari esensi yang maya. Tidak empiris seperti yang dikatakan anak kecil bahwa cabe itu pedas. Apakah karena eksistensiku ada dalam bayang-bayang atau hanya bayangan, atau tidak tampak dalam kegelapan dan terang, bukan itu, tapi aku setidak-tidaknya mempunyai alat untuk membayangkan bayangan. Apakah kenyataannya dalam hidup ini tidak ada hitam putih, baik buruk, hidup mati, kaya miskin, laki-laki perempuan, dan hukum kausalitas lain ataupun diantaranya. Juga apakah ketiadaan ini yang disebut keadaan, tak ada yang bisa diistilahkan, dibahasakan, diverbalkan, atau dimaterialkan bagaimanapun, karena hakekatnya ada pada substansi ketiadaan, esensi bayangan, yang tidak bisa dianggap ada pada dunia bayangan, tapi memang ketiadaaan itulah yang menjadi di-adakan bukan realitas yang ada tapi hanya ilusi dari kehampaan. Sebagai sesuatu yang dianggap manusia belum sempat kiranya untuk memaknai manusia seutuhnya akibat keadaan yang memang tidak pernah mengajak pada pemaknaan yang bersifat artifisial, manusia dengan segala yang bergejolak dalam pikirannya dan seluruh perilaku tingkah laku yang berjuta ragamnya seolah hanya dibatasi ruang dan waktu semata bukan karena dianggap zat dan geraknya saja namun seluruh substansi terkonstruk ke dalam kerangka bingkai kedangkalan intuisi. Sebuah realitas yang terperosok kedalam lubang kecil yang tidak begitu dalam berpikir dan merenung berusaha mencari pijakan untuk keluar melihat lubang tadi, melihat matahari sudah setinggi berapa derajat, menghirup oksigen yang sudah terasa pengap, dan melangkah hati-hati berjalan menyusuri jalan yang tidak ada sedikitpun arti dari bulatnya bumi kecuali hanya padang rumput yang datar beserta sedikit angin panas menerpa ranting-ranting pohon yang sudah tidak ada daunnya. Sekedar sandiwara atau kisah yang sempat ada dalam ringkasan kehidupan tidak lebih hanyalah fiksi dari fatamorgana dalam panasnya matahari menyengat kulit memaksa keringat keluar, menipu mata hati untuk lebih cepat mengambil konklusi bahwa hidup dalam kehidupan hanya dibatasi ruang dan waktu serta terbebas dari pengetahuan tentang hidup sesudah mati, balasan sorga neraka, sedih dan gembira, realitas yang lain diluar panca indera, atau melihat tanpa kacamata hegemonik sebuah diri atau komunal. Definisi dari harga diri, kehormatan, atau hal-hal yang metafisis lainnya bukan sekedar tekstual atau kontekstual, tapi lebih dari sekedar itu, anggapan, asumsi, premis, proposisi, dan semua yang terkait dengan bahasa, bahasa verbal, non verbal, fiksi, gerak, bahkan bahasa atau lambang yang artifisial pun telah berusaha membatasi atau bahkan menghilangkan makna sesungguhnya dan sebenarnya dan alangkah tragisnya banyak yang terjerumus kedalam lorong kebutaan yang semakin dalam tanpa batas, sehingga sulit keluar dari jebakan mekanisme dan persepsi. Berbagai metode, instrumen, rumus dan berjuta cara telah menjadi tabir realitas sesungguhnya, tabir yang berlapis-lapis, cermin yang memantulkan bayangan, kaca yang transparan, kaca hitam putih, warna-warni pelangi yang semuanya dianggap sepenuhnya memproyeksikan kenyataan padahal dibalik tabir itu bukan hanya misteri yang seolah belum terkuak, tapi di atas misteri itu terdapat kenyataan yang sebenarnya ada dalam diri manusia, ada dalam bayangan, ber-ada dimana-mana, sampai adanya dianggap sebagai ketiadaan karena bebas dari ruang dan waktu, terbebas dari ukuran jauh dan dekat, terlepas dari hidup dan mati, tak berwarna, tak berasa, tampak dalam ketiadaan, yang tak berbentuk dan tak terlukis dalam angan, ilusi bayangan, tapi kenyataan itu ada dalam keadaannya, tampak pada mata telanjang, terasa pada kulit, hidup tanpa kehidupan, serta sama sekali tidak berada di dunia antara. Semua yang terkait dengan hal yang transendental tentunya sangat sulit untuk dipahami walaupun hanya sekedar abstraksi dalam pisau nalar. Demikian juga, ketergantungan pada perasaan yang dipaksakan tidak lebih sekedar tipu muslihat yang meracuni, menikam, dan mengkoyak-koyak akal budi, terilhaminya intuisi walau hanya sekilas sesekali bukanlah insidental belaka, air yang seolah mendidih dalam 100 derajat tidak dapat diukur hanya dengan perkiraan an sich, keterbatasan indera, akal, ataupun alat yang berdiri sendiri tidak lebih dari omong kosong belaka. Selayaknyalah aku berpaling pada hal-hal yang menguasai paradigma dengan segala bentuk konsekuensi dari semua ini, bukanlah hal yang penting saat ini bagiku kecuali mencoba merenungkan segala keterlibatanku dan ketertarikanku pada afektivitas rasionalisme kemudian merekontruksi ulang atau bahkan mendekontruksi semua yang berperilaku sebagai kuasa atas diriku. Pada hakekatnya aku menyukai segala yang ada dalam kehidupanku kecuali cinta, kenapa aku harus membenci cinta? Sebuah pertanyaan yang sampai hari ini belum terjawab, belenggu romantisme telah sekian lama ku bongkar dan kuhancurkan, cinta laksana pembunuh berdarah dingin, penipu yang ahli menghipnotis, dengan hayalannya mampu meremukkan imajinasi. Jauhnya diriku dari cinta, membuat kebahagiaan tersendiri bagi tatanan indera perasaku, lebih dari empat tahun aku terjebak dalam kubangan hitam itu, kemampuan logika sederhanaku mampu menyimpulkan bahwa manusia yang bercinta sangatlah terkutuk apalagi diungkapkan sebagai sebuah nalar diskursif. Kasih sayang, rindu, kebersamaan, saling menghargai semuanya reduksi dari cinta yang mustahil untuk direalisasikan. Satu hal yang baik menurutku adalah kesungguhan, berangkat dari sebuah ide dan indera semua orang bisa merelasikan kehidupan yang bermakna dan berarti bagi perjalanan hidup menyusuri ruang dan waktu, hal ini tanpa dimulai dengan kesungguhan, maka akan menjadi fenomena yang besar dalam dunia empiris sekarang ini. Terkadang tanpa kusadari mimpi buruk yang sering kualami menjadi masalah besar dalam nalarku, entah datang darimana yang jelas aku tak kuasa untuk menolak kehadirannya. Nalar yang telah terkontaminasi dengan mimpi buruk atau hal-hal yang menyebabkan kegelisahan, menjadi sebuah cacat nalar yang berimplikasi pada cacat perilaku dan tindakan serta sangat berpengaruh dalam memberikan keputusan. Cacat nalar yang terdefinisi sebagai kebodohan tertinggi, sakit yang paling parah, sehingga siapapun orang yang berangkat dari ide-ide cacat nalar maka dia akan jauh dari pengetahuan, jauh dari ilmu dan sangat dekat dengan kesesatan, tiada teori yang menjelaskan nalar secara diskursif dan barang siapa yang mencoba mendefinisikan, maka dialah sang pembohong besar yang dengan ambisinya mencoba membunuh kemandirian. Tiada untungnya bagi siapapun manusia yang meneliti keabstrakan karena pada dasarnya itu hanyalah sebatas perkiraan, sementara masih banyak hal yang harus menjadi ataupun ada sebagai sebuah kevalidan (teorema) bahkan kebenaran (postulat dan aksioma), kebenaran yang sesungguhnya tiada butuh bukti rasional, dia dapat membuktikan dirinya sendiri dengan common sense subjeknya, sesungguhnya perasaan dan intuisilah yang menjebak diri kita sebagai manusia ceroboh. Jika ada orang gila yang telanjang dijalanan maka dia lebih baik daripada manusia cap waras yang berkomentar tentang dia. Perasaan bukan alat yang baik untuk orang yang mengharapkan pengetahuan, siapapun yang telah dengan rela melepaskan segala rasa dalam segala aktifitas pikirannya niscaya dia benar-benar objektif, tapi tak ada satupun dari manusia yang sanggup untuk melakukan itu karena pada dasarnya semua orang takut untuk berani berpikir dengan hatinya. Aku yang berusaha sampai hari ini untuk membahasakan isyarat hati dengan suatu pikiran kritis yang bukan hanya sulit dipahami tapi seringkali menghilang dan muncul namun hanya sekejab. Orang yang diam pasti dapat mendengarkan suara hatinya sedang bicara, dalam bergumam, berpikir, dan mendengar. Aku sangat sepakat jika memang manusia saat ini hanyalah robot dengan roh yang berkembang dalam dimensi yang berbeda, dan benar-benar merupakan penampakan fisik yang sering menipu, bukan lebih pada tingkat kejeniusannya dalam mengungkap kebenaran suara hati. Aku tahu apa yang tidak semua orang tahu tentang aku, aku mengumpat, memaki, meludahi, dan membunuh siapun orang yang kukehendaki dengan tak ada seorangpun yang tahu. Manusia merupakan satu kesatuan utuh yang tereduksi menjadi roh dan jasad. Aku sebagai seorang penganut filasafat diri eksentrik dengan segenap skeptisis, realistis, idealis, menganggap apapun yang terkait dengan "hubungan" adalah keniscayaan obyektif dari suatu gerakan. Tak ada sesuatupun yang diam semuanya bergerak, seperti gunung bersama bumi bergerak mengelilingi matahari, proton dan elektron dalam sebuah benda. Hal yang bergerak seperti itulah yang diyakini manusia sebagai diam, diam dalam dimensi ruang dan waktu, sedalam dan seluas pandangan orang-orang kritis yang memahaminya. Bergerak adalah hakekat, diam adalah nisbi, gunung itu kecil dalam tatasurya tapi banyak yang bilang besar. sebenarnya perasaanlah yang menisbikan hakekat realitas, imajinasi dan intuisilah yang menggeser kejelasan makna menjadi abstrak dan dengan rasa bahasa menjadi alat yang bodoh dan tidak berguna. Bahasa sebagai pecundang yang luar biasa biadabnya, memperkosa realitas sebenarnya dengan pembatasan makna yang secara kompulsif menggunakan kuasanya, bahasa adalah monster hegemonik yang menyeramkan, ahli bahasa adalah penipu yang seolah berjasa namun memisahkan makna dengan realita, menyembunyikan bahan dari produknya, dan menisacayakan sesuatu yang tidak berharga. Bahasa hanyalah untuk anak kecil yang belajar membaca dan menulis, tidak layak untuk mendefinisikan fakta. Orang yang kaya bahasa akan jauh dari makna, sedangkan orang dewasa akan sedikit menghargai makna daripada bahasa. Terlanjur bahasa menjadi bagian dari makna, dia akan hiperbolik dan semena-mena, Tak ada pembelaan atau apologia terburuk kecuali ada pada ahli bahasa. Akulah manusia yang paling muak dengan kesombongan para bahasawan, dalam hal ini Pemahamanku tak akan bisa dipahami jika berada dalam dimensi pengetahuan berbeda, kecuali dengan karakteristik kritis yang tidak sekedar falsifikatif tapi juga negasi afirmatif. Seperti halnya kaum intelektual amatiran yang hanya ahli dalam membongkar, mendekontruksi tanpa disertai teori besar yang mapan dan dapat dipertanggungjawabkan. Hal yang semacam itu juga dapat membodohkan bahkan menyesatkan, bukankah sangat membahayakan sisi kemanusiaan manusia. sangat disayangkan bahwa mereka dengan karakter elitisnya tidak mampu mengontrol perkembangan teknologi mekanistik deterministik kapitalistik yang telah berubah menjadi hantu yang bergentayangan di muka bumi ini.(slim shady 84)

kembali ke halaman muka